Ketika Persma Tertidur

Ketika Persma Tertidur

"Ilmu bagaikan binatang liar dan menulis adalah tali pengikatnya. Ikatlah hewan buruanmu dengan tali yang kuat. Adalah bodoh sekali jika anda memburu seekor kijang, kemudian anda lepaskan begitu saja tanpa tali pengikat." (Imam Syafi'ie).

Menulis adalah salah satu cara menuangkan ide dan gagasan untuk kemudian disampaikan  kepada orang lain. Sebagai seorang mahasiswa, aktivitas menulis merupakan komponen utama yang harus dikuasai, selain membaca. Tentu saja hal ini karena melihat aktivitas sehari-hari mahasiswa yang tidak lepas dari yang namanya menulis, baik itu membuat makalah, resume, mengerjakan tugas, dan lain-lain. Namun sayangnya, aktivitas menulis di kalangan mahasiswa mulai menurun dan kurang diminati. Ini disebabkan oleh kemudahan teknologi yang dimanfaatkan secara tidak bijak'. Bukan rahasia lagi jika membicarakan tentang makalah dan tugas hasil copy-paste dari internet. Wabah plagiarism ini sudah menjadi penyakit yang akan menggerogoti kreativitas dan eksistensi mahasiswa itu sendiri.

Persma, Sarana Kreativitas Mahasiswa

Persma adalah singkatan dari Pers Mahasiswa atau disebut juga dengan LPM (Lembaga Pers Mahasiswa). Persma adalah bagian tak terpisahkan dari sejarah perjuangan Indonesia. Pada rezim orde baru, persma-lah yang menyuarakan fakta-fakta tentang pemerintahan kepada masyarakat kampus dan khalayak banyak. Karena keberanian persma, civitas academica mengetahui apa yang sebenarnya terjadi sehingga kemudian bersatu menumbangkan rezim yang mengekang kreativitas menulis dan aktivitas pers tersebut.

Setiap manusia punya yang namanya "kreativitas'. Masalahnya adalah bagaimana menggali kreativitas tersebut dan mengembangkannya. Dalam menulis, kreativitas mutlak diperlukan. Menorehkan pena dan menggerakkan jari untuk mengetik tidaklah mudah bagi yang belum terbiasa. Karenanya dibutuhkan suatu wadah yang bisa memfasilitasi serta membimbing kita dalam menulis. Tentunya, yang paling penting dari sebuah artikel atau tulisan adalah terpublikasinya' tulisan itu ke khalayak. Persma (LPM) adalah sarana yang tepat.

Namun sekarang peran persma sudah digantikan oleh media-media yang cakupannya lebih luas. Persma kini seperti terkurung dalam suatu tempurung yang bernama 'kampus'. Walaupun begitu, persma tetaplah sebagai penyambung lidah mahasiswa terhadap permasalahan yang ada di dalam maupun di luar kampus. Persma adalah tempat yang tepat untuk menyalurkan dan mengembangkan kemampuan menulis mahasiswa. Karenanya, meskipun perannya semakin mengerucut, persma tetaplah menjadi suara kebenaran bagi mahasiswa.

Fungsi Persma di Kampus

LPM sebagai badan pers di kampus mempunyai 4 peran utama, yaitu to inform, to educate, to entertain, dan social control. LPM punya tanggung jawab untuk memberikan informasi kepada mahasiswa mengenai kejadian-kejadian penting di kampus. Hal ini bisa diwujudkan dengan cara memberitahukan tentang adanya lomba, isu-isu di kampus, serta pergantian jabatan seperti yang baru-baru ini terjadi di STAIN Pamekasan (to inform). Karena LPM adalah badan pers yang dikelola oleh dan untuk mahasiswa yang konon kaum intelektual, tentunya LPM harus bisa menyajikan tulisan-tulisan yang bermutu dan mengasah intelektualitas civitas akademika di kampus (to educate).

Meskipun kaitan LPM erat sekali dengan pemikiran, namun perlu adanya entertain (hiburan). Bukan hanya di LPM saja, tetapi di media-media profesional lainnya juga tidak terlepas dari unsur yang satu ini. Jangan sampai para pembaca menjadi bosan karena hanya disuguhi tulisan-tulisan yang tidak menarik perhatian mereka. Disinilah fungsi LPM yang ketiga (to entertain) diperlukan.

Yang terakhir adalah social control. Mahasiswa yang merupakan agent of change, agent of iron, dan agent of sosial control bebas menyuarakan aspirasi mereka melalui LPM. Social control terhadap manajemen kampus, dosen, dan elemen-elemen lain dalam kampus sebisa mungkin terus dilakukan demi kemajuan kampus itu sendiri. Tentunya, kritik-kritik tersebut disampaikan dengan bahasa yang elegan, sehingga tidak terkesan memojokkan yang bersangkutan serta menunjukkan jiwa mahasiswa yang berintelektualitas tinggi.

Bagaimana dengan LPM di STAIN Pamekasan?

Jika sebelumnya kita bicara tentang persma (LPM) secara umum, maka sekarang kita akan membahas mengenai LPM di kampus kita, STAIN Pamekasan. Seperti yang kita tahu bersama, LPM di STAIN adalah salah satu UKK (Unit Kegiatan Mahasiswa) yang bergerak di bidang jurnalistik. Sebagai satu-satunya lembaga pers di kampus, LPM menjadi tempat bagi mahasiswa yang memiliki minat seputar dunia tulis-menulis.

Bentuk nyata dari adanya LPM ini adalah majalah Activita yang terbit tiap satu semester sekali. Di dalamnya aspirasi mahasiswa selama satu semester dimuat dan dipublikasikan ke seluruh mahasiswa. Tentunya dengan adanya majalah Activita ini bisa menarik perhatian para MABA (Mahasiswa Baru) untuk turut serta terjun dan berpartisipasi ke dunia jurnalistik.

Satu hal yang masih menjadi ganjalan. Satu semester sekali? Apakah LPM hanya berfungsi pada saat di-release-nya majalah tersebut? Lalu, dimana keberadaan LPM pada masa-masa kekosongan majalah? Tentu saja sebagai mahasiswa yang masih belum menjadi anggota LPM, penulis tidak bisa menjawabnya.

Pernah penulis bertanya kepada seorang teman mengenai Peran LPM di Kampus. Dan jawabannya kira-kira seperti ini:

"Saya kira adanya LPM di kampus ini cukup membantu kita, para mahasiswa, untuk mendapatkan informasi seputar kampus lewat majalah Activita yang terbit tiap semester. Namun itu juga merupakan sisi negative-nya. Seakan-akan LPM hanya berfungsi satu kali dalam satu semester. Jika dipikir-pikir kembali, LPM di kampus tidak berjalan dengan baik dan tidak ada perubahan dari tahun ke tahun." 

Begitulah pendapat salah satu mahasiswa mengenai LPM di STAIN Pamekasan. Terlepas dari benar tidaknya pendapat tersebut penulis sendiri belum bisa memastikan, karena saat ini penulis hanya bisa melihat dari satu sisi, kacamata non-anggota.

Membangkitkan LPM di Kampus

Sungguh sangat disayangkan jika prasangka di atas itu benar. LPM sebagai pers! mahasiswa seharusnya bertindak lebih dari itu. Bahkan, jika perlu mengadakan agenda mingguan ataupun harian untuk menyalurkan informasi ataupun karya tulisan kepada mahasiswa. Ini bisa dilakukan dengan memanfaatkan sarana yang ada di sekitar kampus.

Salah satu sarana yang paling efektif guna mendukung terlaksananya programprogram jurnalistik adalah mading kampus. Selama ini mading hanya berisi informasiinformasi tentang seminar, kegiatan ukk dan ukm, serta info-info organisasi dan kampus. Ini menandakan bahwa informasi di kampus berjalan dengan baik, namun juga sebagai pertanda bahwa tidak berfungsinya mading sebagai sarana mempublikasikan tulisan mahasiswa.

Satu-satunya yang terlihat berbeda adalah bilingual area, dimana didalamnya terdapat artikel-artikel yang dipasang sendiri oleh mahasiswa, meskipun kebanyakan adalah artikel bahasa inggris. Seharusnya hal yang sama juga dilakukan oleh LPM maupun anggotaanggota LPM. Apa bedanya mereka yang tergabung dalam LPM dengan mahasiswa biasa jika sama-sama diam dalam kancah jurnalistik kampus?

Anggota adalah Pion Penggerak

Dalam setiap organisasi, yang menjadi pion utama agar organisasi tersebut bisa berjalan adalah anggota. Tanpa anggota, organisasi tidak ada artinya. Karena itu, LPM perlu mengadakan pembenahan dan peningkatan mutu anggota agar nantinya anggota tersebut benar-benar berfungsi sebagai anggota yang bergerak untuk organisasi. Lalu, perlu adanya kriteria-kriteria yang ditetapkan bagi anggota LPM. Seperti apa kriterianya?

Dalam buku pedoman Standar Kompetensi Wartawan, Dewan Pers menyebutkan ada tiga bidang kompetensi yang harus dimiliki wartawan. Pertama, kesadaran (awareness) tentang etika jurnalistik dan hukum, kepekaan jurnalistik, serta pentingnya jejaring dan lobi. Kedua, pengetahuan (knowledge) tentang teori dan prinsip jurnalistik, pengetahuan umum, dan pengetahuan khusus. Dan ketiga, keterampilan (skills) mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi (berita).

Hal ini tidak hanya berlaku untuk wartawan saja, melainkan juga berlaku kepada para jurnalis kampus yang tergabung dalam LPM. Dengan menerapkan tiga kompetensi dasar tersebut diharapkan para jurnalis muda dalam LPM dapat memberikan sumbangsih dalam memajukan jurnalistik kampus. LPM punya kewajiban untuk mewujudkan 3 kriteria itu pada setiap anggota. Hal yang bisa ditempuh adalah dengan mengadakan pelatihan dan pembinaan kepada para anggota.

Teknologi vs Jurnalis

Telah disebutkan pada pembahasan di awal bahwa teknologi sudah menggerogoti kreativitas dan dunia tulis-menulis di kalangan mahasiswa. Hal ini tentu saja tidak bisa dihindari, mengingat kita sedang berada dalam 'era globalisasi', dimana pertukaran informasi dan komunikasi berlangsung sangat cepat dan tak terkendali. Perlu adanya filter yang mampu menyaring hal tersebut sehingga tidak menimbulkan dampak negatif dan menjadi bumerang bagi kita.

Bukanlah hal baru jika kita bicara mengenai jurnalistik dan teknologi. Dua dunia yang berbeda tersebut ternyata dapat disatukan menjadi sebuah santapan baru yang menarik dan menarik minat massa. Sebut saja Okezone.com atau sindonews.com, sebuah portal berita online yang menyajikan informasi secara online dan bisa dinikmati bukan hanya oleh masyarakat Indonesia, tapi juga bisa dibaca oleh orang-orang di seluruh dunia. Inilah salah satu manfaat dari adanya teknologi yang bernama 'internet' ini.

Jika pada zaman dulu, informasi masih disebarkan secara klasik, yakni melalui media cetak seperti koran majalah, dan surat kabar. Namun sekarang hal tersebut tidak lagi menjadi satu-satunya opsi dalam mendapatkan dan menyampaikan informasi. Media online kini mulai dilirik dan diminati oleh banyak kalangan. Selain murah, media online juga mampu menjangkau semua kalangan. Sudah saatnya para jurnalis kampus membuka mata dan telinga untuk turut serta meramaikan dunia jurnalistik online' ini.

Dengan memiliki website maupun blog sendiri, LPM bisa menulis artikel dan menyebarkannya tanpa harus khawatir mengenai masalah biaya pencetakan dan distribusi. Satu-satunya hal yang harus dipikirkan adalah bagaimana menulis artikel sebanyakbanyaknya dengan kualitas yang terjamin. Selanjutnya, artikel-artikel tersebut akan tersebar secara otomatis oleh mesin pencari yang akan menyebarkannya ke setiap jaringan internet di dunia.

Satu lagi inovasi yang bisa dilakukan oleh LPM melalui internet adalah mencetak penulis online dari kalangan mahasiswa sendiri. Seperti halnya yang dilakukan oleh kompas.com, dimana semua orang bisa menulis artikel pada website tersebut tanpa terkecuali. Dengan menerapkan konsep yang sama pada website LPM nantinya, mahasiswa bisa mengembangkan kemampuan menulis mereka dengan bebas.

Napoleon Hill dalam bukunya-Think and Grow Rich- mengatakan Pikiran man mampu melaksanakan apa saja yang diyakininya." Jika kita meyakini LPM sebagai suatu wadah jurnalistik kampus, maka yang harus kita lakukan adalah melaksanakan dan menggerakkan LPM sesuai dengan hakekat yang sebenarnya. Zaman akan terus berubah, dan perubahan itu memang perlu, jika memang perubahan itu mengarah ke hal-hal positif. Sudah saatnya merevisi sistem lama dan beralih mengikuti perkembangan zaman.

You are what you think...

And it can be real with an ACTION...!!!


*) Tulisan ini dibuat sebagai persyaratan Penerimaan Anggota Baru (PAB) LPM Activita di tahun 2012

0 Response to "Ketika Persma Tertidur"

Posting Komentar

Apa pendapatmu tentang tulisan ini?

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel