Workshop Creative Teaching

Workshop Creative Teaching

Guna menciptakan dosen yang kreatif dalam pembela jaran, STAIN Pamekasan mengadakan workshop dengan  tema “Pengembangan Creative Teaching Bagi Dosen”.  Workshop ini dikhususkan kepada semua dosen Pendidi kan Agama Islam (PAI) STAIN Pamekasan. Bertempat di  salah satu hotel di Pamekasan (3/4-5-2014), yang dilak sanakan mulai jam 08:00-14:00. Peserta yang hadir dalam  workshop sejulah 25 Dosen, 17 dari dosen Pendidikan  Agama Islam (PAI) sedangkan yang lainnya dari non PAI,  bahkan ada juga yang dari struktural.  

Pemilihan tema “Creative  Teaching” diawali oleh keinginan  para dosen yang menginginkan  adanya perbedaan cara dalam  proses belajar mengajar, sehingga nantinya akan menghasilkan  outcome yang profesional dalam  proses pembelajaran. Mau tidak  mau, Jurusan Tarbiyah khususnya  Prodi Pendidikan Agama Islam  (PAI) akan mencetak guru. Tentunya tidak sembarangan guru,  melainkan guru yang profesional.  Dalam hal ini, pembelajaran yang  kreatif sangatlah diperlukan. 

Persiapan workshop sudah  direncanakan 3 bulan sebelumn ya. Tidak tanggung-tanggung,  yang menjadi pemateri adalah  Profesor Kuncoro, guru besar  sekaligus ketua bagian psikologi  sosial di Fakultas Psikologi Universitas Gajah Madha (UGM) Jog jakarta. Ia juga mendirikan Pusat  Pengembangan Masyarakat (PPM)  di salah satu daerah di Gunung  Kidul. Ia mengatakan, creative  teaching sangat perlu dipelajari  oleh para dosen guna mencip takan proses pembelajaran yang  menyenangkan bagi mahasiswa,  sehingga mereka tidak merasa jenuh dalam proses belajar.  

Kuncoro mengibaratkan se orang dosen seperti halnya betara  krisna. Sebelum dia mengajar, su dah tau mahasiswanya nanti akan  menjadi seperti apa. Sehingga  dari situ sudah bisa mengetahui  materi pembelajaran yang harus  diberikan, apa kesulitan yang  akan dihadapi, dan hasilnya nanti  seperti apa.  

Menurutnya pembelajaran itu bukan semata-mata untuk pen gajaran. Pembelajaran juga harus  mengarah kepada pendidikan.  Artinya dosen harus memahami  kondisi mahasiswa yang sesung guhnya. Ia melanjutkan, ketika  ada masalah dalam pembelaja ran di kelas, seorang dosen tidak  boleh menyalahkan mahasiswa.  Dosen harus mengetahui masalah  dan kesulitan yang dihadapi ma hasiswa.  

Menurut Kuncoro ada banyak  hal yang bisa menjadi penyebab.  Bisa karena motivasi mahasiswa  yang rendah, cara mengajar dos en yang tidak menarik, layanan  akademik yang tidak memuas kan, atau sarana pra sarana yang  kurang. Dosen harus mampu  mengenali itu, sehingga untuk  pengembangan ke depan bisa  diketahui mana yang harus di ubah dan mana yang sebaiknya  diperbaiki.  

“Kalau misalnya motivasi be lajar mahasiswa rendah, harus  kita cari tahu penyebabnya. Apa kah karena mahasiswa kesulitan  ekonomi, atau mungkin dosen nya tidak menarik. Seorang dos en harus mampu mengenali hal  itu, dan mampu memecahkan  masalah yang ada,” ungkapnya. 

Dalam hal pembelajaran di ke las, Kuncoro mengatakan, seorang  dosen harus menyiapkan current issue, masalah yang muncul di masyarakat pada saat itu dan dihubungkan dengan materi di kelas, sehingga mahasiswa jadi peka dengan masalah di sekitarnya. Kemudian dosen juga harus mampu menangkap simbol-simbol yang ada di sekitarnya. 

Pria lulusan University of Watruck di Australia (S2 dan S3) ini juga menyampaikan konsep SMEPPPA kepada peserta. Menurutnya, dosen yang baik adalah yang melaksanakan konsep SMEPPPA (Senyum, Mendengarkan, Empati, Peka, Peduli, Pandai Memuji dan memilih kata bijak dan Action).  

Seorang dosen harus pandai tersenyum karena senyum merupakan simbol social acceptancy (peneriaman sosial). Jika dosen banyak tersenyum, mahasiswa akan banyak berkonsultasi den gannya. Sebaliknya kalau dosen  selalu marah, mahasiswa akan  menghindar. 

Lalu dosen harus mendengar kan mahasiswa. Bukan sekedar  mendengarkan, tapi mendengar kan dengan menghargai. Mis alnya ketika ada mahasiswa yang  bicara dengannya, ia mendengar kan dengan seksama, bukannya  mendengarkan sambil memankan  handphone atau yang lain. Empati  itu merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain. Berikutnya adalah  peka, yakni itu mampu membaca  simbol-simbol yang ada di seki tarnya.  

Peduli itu what can i do for  you. Kita harus peduli pada sesa ma. Misalnya ketika ada maha siswa yang kesulitan membayar  baiya kuliah, lalu seorang dosen  dimintai tolong, jangan biarkan  mereka sendirian, dosen harus  menolong semampunya. 

Pandai memuji dan memilih  kata bijak. Mahasiswa itu harus di hargai bukannya dihukum, karena  sebenarnya memuji itu jauh lebih  baik daripada memberikan huku man. Saat berbicara kepada maha siswa, bicaralah dengan kata-kata  yang bijak dan enak didengar, se hingga tidak menyakiti perasaan  orang yang mendengarnya. 

Yang paling penting dari se muanya adalah action. Do it, laku kanlah hal-hal yang tadi. Percuma  mengetahui konsep SMEPPPA jika  tidak dilaksanakan. 

Kuncoro juga menyarankan  agar pendidikan di STAIN Pame kasan mempunyai karakter yang  jelas. Dalam artian ciri orang  Madura itu adalah orang yang bi asanya patuh kepada kiyai, ulama.  Kepatuhan itu sudah merupakan  nilai lebih. Jika ditambah lagi  dengan mereka diajari belajar ta sawuf, maka karakternya disini  bisa menjadi patuh dan anti ko rupsi. Artinya, jadikanlah maha siswa disini punya karakter, punya  ciri khas yang membedakan den gan perguruan tinggi lain. 

Menurutnya, gelar dosen dan  doktor itu hanya di dalam kelas,  kalau di luar ya seperti teman  biasa, apalagi kalau melakukan  penelitian kedudukannya dengan  mahasiswa sama. Kuncoro melihat doktor disini sudah banyak,  juga banyak doktor-doktor baru,  sehingga ia berharap nantinya bisa lebih kreatif. Kreatif yang  dimaksud adalah terkait dengan  pemecahan masalah. 

Selama penyampaian materi,  Kuncoro selalu menyelipkan hu mor, sehingga membuat peserta  tidak jenuh. Tak jarang tawa ter dengar dari peserta saat ia meny ampaikan guyonan khas nya. Pe nataan kursi yang berbentuk semi  circle juga meningkatkan inter aksi antara pemateri dan peserta  workshop.  

Fathol Khalik selaku Ketua Prodi PAI berharap, dengan adan ya workshop tentang pengem bangan creative teaching ini bisa  memotivasi dosen untuk men ciptakan proses pembelajaran  yang kreatif dan menyenang kan bagi para mahasiswa STAIN  Pamekasan, dengan tujuan guna  meningkatkan kualitas proses  pembelajaran yang ada di STAIN  Pamekasan. 

Zaini, salah satu peserta work shop dan juga dosen mengatakan,  workshop ini berbeda dengan  workshop yang ia hadiri sebel umnya. “Kebanyakan workshop  hanya pemateri yang bicara. Tapi  dalam workshop ini peserta diajak  langsung untuk berdiskusi, dan  mencari solusi tentang masalah  yang ada di STAIN Pamekasan,”  ungkapnya. (SNJ) 


Tulisan ini dimuat di Tabloid WARTA STAIN Pamekasan Edisi 2 (Juli-Desember 2014) dalam rubrik "Civitas" saat penulis menjadi reporter di tabloid tersebut.

0 Response to "Workshop Creative Teaching"

Posting Komentar

Apa pendapatmu tentang tulisan ini?

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel