Ramadhan Day 13: Double Fail and Perek

Ramadhan Day 13: Double Fail and Perek

Semalam aku menderita kesepian dan kelaparan. Berawal dari HP yang mendadak baterainya habis, sehingga aku tidak bisa menghubungi temanku yang tinggal di dekat monumen Sampang. Terpaksa, setelah menghabiskan waktu semalaman di warnet, aku tidur di masjid terdekat, tentunya setelah berjalan kaki sendirian. Aku masih terselamatkan oleh netbook ku yang selalu aku bawa, setidaknya aku bisa menonton movie malam itu.

Dini hari, sekitar jam 2 aku bangun. Perut keroncongan minta diisi. Pemberhentian selanjutnya adalah alfamart di seberang jalan. Meskipun waktu sudah sangat larut, tetap saja ada orang (lebih tepatnya pemuda) yang masih berkeliaran di sepanjang jalan. Mungkin mereka menjadi semacam kalong di bulan ramadhan, siang tidur, malam keluyuran. Hal yang sama berlaku padaku di malam itu. Bedanya, siang tadi aku tidak tidur sama sekali, sehingga membuat mataku berat sekali untuk berkedip.

Setelah membeli minuman dan barang-barang lain di Alfamart, abang penjual sate aku jumpai. Sembari menunggu sate pesanan tiba, mata ini tertuju pada sekumpulan anak kecil yang bermain sepak bola di jalanan. Melihat mereka seperti itu membuat aku teringat dengan film kartun yang pernah aku tonton, tentang anak jalanan yang suka sekali bermain sepak bola. Aku heran kenapa anak-anak itu bisa bangun sepagi ini.

Perut jadi kenyang setelah menyantap sate dan nasi putih, yang sekaligus menjadi hidangan santap sahurku. Sejenak aku tidur di masjid, terbangun oleh toa dan sholat subuh. Selanjutnya, aku cuci muka dan menunggu bis mini di pinggir jalan. Cukup lama aku menunggu datangnya bis. Aku telpon teman-teman yang sedang KPM untuk menghilangkan kebosanan. Belakangan aku baru tahu kalau salah satu temanku yang sedang melakukan KPM, lokasinya ada tepat di samping masjid yang aku tempati tidur.

Ternyata penantianku benar-benar tidak berguna. Aku rupanya menunggu di tempat yang salah. Bis mini tidak lewat disana, melainkan di pertigaan yang masih jauh dari tempatku berada. Thanks to my friend di telpon, yang membuat aku sadar kalau aku ada di tempat yang keliru. Sebelum menaiki bis mini, aku perg ke ATM dan mengambil uang untuk keperluan lusa. Then, aku meluncur ke Pamekasan untuk menghadiri undangan.

Singkat cerita, aku tiba di Pamekasan dengan utuh. Mampir sebentar ke kampus dan menemui teman-teman yang bermukim disana. Sholat jum’at lalu istirahat di kosan teman. Setelah ashar, kita naik bis mini menuju pertigaan Jalmak. Disana, kami bertemu dengan Pak Hafid dan bersama meluncur ke sumenep dengan mobilnya –tentunya setelah menunggu cukup lama. Ada 5 ½ orang di mobil itu. Aku, Syamsul, Mbak Unzi, Pak Hafid, Istrinya serta anaknya yang masih berukuran setengah. Selama perjalanan aku banyak damnya. Bukan karena aku pendiam, tapi karena aku kelaparan dan kecapean.

Sore ini kami akan buka bersama di sumenep untuk memenuhi undangan dari Pak Malhum. Dia adalah pimpinan redaksi Tabloid WARTA (tabloid kampus). Pak Hafid adalah staf dan redaktur. Sementara aku, Syamsul dan mbak Unzi adalah reporter WARTA. Sebenarnya ada seorang lagi yang juga menjadi reporter, tapi dia lagi ada masalah dengan pak Malhum. Ah, lupakan saja, bukan saatnya untuk bergosip.

Kami dijemput oleh pak Malhum di sebuah pertigaan, dan digiring menuju sebuah rumah makan lesehan yang penuh dengan bambu sebagai kerangka dan juga interior d rumah makan tersebut. Selain pak Malhum dan istri, juga ada mas Obbath, layouter tabloid WARTA. Saat menyebut namanya aku kok jadi inget sakit ya. :D btw aku baru kali ini bertemu dengannya. Hasil layout yang dibuat olehnya cukup bagus, secara dia juga layouter koran lokal.

Hari ini aku 2 kali salah tempat. Yang pertama saat tadi pagi menunggu bis mini, yang kedua aku dan teman-teman yang lain salah menempati tempat di rumah makan tersebut. Mungkin karena sedang kelaaran, jadi kami main nyosor aja duduk di tempat yang sudah terseda makanannya. Kami pindah ke tempat di sebelahnya dan menunggu datangnya makanan. Sembari menunggu kami membicarakan tentang tabloid WARTA edisi kedua yang akan terbit sebentar lagi. Mas Obbath menunjukkan rancangan layout yang sudah ia print. Kami pun berdiskusi cukup panjang mengenai halaman yang belum diisi dan sampul depan.

Perhatianku teralihkan oleh kedatangan rombongan pemuda pemudi ke rumah makan. Mereka menempati tempat yang tadi kami salah tempati. Rombongan itu terdiri dari cowok dan cewek yang kurang lebih sekitar sepuluh orang. Bagaimana tidak teralihkan, cewek-ceweknya memakai pakaian yang serba ketat dan juga minim, sehingga menampilkan lekak lekuk yang menarik untuk dinikmati di sore hari ini. Posisiku adalah posisi yang paling strategs untuk melihat mereka. Mereka tepat berada di depanku, dan itu membuatku tidak konsen. Naluri lelakiku pun bangkit.

Tak hanya aku, semua lelaki yang ada di sampingku juga curi-curi pandang. Yah, inilah godaan terbesar hari ini sekaligus penyegaran untuk mata. Meskipun d tempat umum dan di bulan ramadhan, cewek-cewek di depanku itu tak malu-malu untuk mengumbar kemesraan dengan cowoknya. Pegang-pegangan lah, bahkan pelukan segala. Benar-benar menjengkelkan, terlebih bagi seorang jomblo.

Mas Obbath yang dari tadi juga memperhatikan mengatakan padaku bahwa dia tahu salah satu cewek dari rompongan itu. Menurutnya, salah satu cewek itu adalah perek atau cewek gak  bener. Dari tadi sebenarnya aku juga berpikiran hal yang sama. Eman saja melihat cewek-cewek yang cantik seperti itu ternyata adalah cewek yang gak bener. Zaman sudah edan.

0 Response to "Ramadhan Day 13: Double Fail and Perek"

Posting Komentar

Apa pendapatmu tentang tulisan ini?

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel