Keluyuran, Tersesat, Ngobrol dan Hilang

Keluyuran, Tersesat, Ngobrol dan Hilang

Hari minggu yang lalu saya memutuskan untuk keluar dari rumah, bepergian selama satu hari agar pikiran fresh. Awalnya saya ingin pergi ke kampus untuk bertemu dengan seorang teman. Katanya, dia ingin diajarkan supaya menjadi aktif di kelas. Entah bisikan apa yang merasukinya sehingga menganggap kalau saya bisa menyembuhkan penyakit ‘diam’ nya. Namun saya mengiyakan saja, karena memang sudah lama tak berjumpa.

Saya sempat resah karena sms saya tidak dibalas, nomornya juga tidak aktif. Karena tidak ada kepastian saya ganti haluan. Saya hubungi teman lain lewat BBM untuk menemani jalan-jalan tapi jawabannya menggantung. Petualangan tetap harus berlanjut. Dengan motor matic, saya meluncur dengan tujuan yang belum jelas.

Suara hati membawa saya menuju Waduk Klampis yang berada di Kecamatan Kedungdung. Biasanya saya ke sana melalui Kedungdung. Tapi kali ini saya mengambil jalur melalui Torjun yang belum pernah aku lewati. Waduk ini adalah salah satu waduk terbesar di Kabupaten Sampang. Luasnya mencapai 2.603 Hektar. Karena sedang musim penghujan, Waduk Nampak semakin sedap dpandang mata. Kucuran air yang meluncur melewati penahan air menjadi pemandangan yang menarik. Di sisi lain, luasnya air yang terhimpun di waduk meneduhkan hati. Tak jarang warga sekitar melungkan waktu untuk mmancing di pinggir waduk bahkan ada yang ke tengah waduk memakai perahu.

Selanjutnya hati saya ingin pergi ke Kecamatan Banyuates. Di sana ada Waduk Nipa yang belum lama ini diresmikan oleh Presiden Jokowi. Tak begitu jauh dari lokasi Waduk juga ada Hutan Kera yang dihuni oleh banyak kera. Dulu saya pernah dikejar oleh kera alpha male di hutan tersebut.

Manusia memang bisa merencanakan, tapi Tuhan yang menentukan. Itulah yang terjadi dalam perjalananku. Niat awal memang ingin ke Waduk Nipa dan Hutan Kera, namun hujan tiba-tiba mengguyur bumi. Jaket yang saya pakai basah karena nekat menerobos gerimis. Akhirnya saya menepi dan berteduh ketika hujan semakin deras. Cukup lama, sampai bosan rasanya berdiam di warung yang kosong.

Hujan reda, perjalanan pun berlanjut. Namun ternyata saya justru sudah melewati perbatasan Kabupaten sampan dan tiba di Kabupaten Bangkalan. Walaupun saya sudah menyadari kalau terlewat, tapi tetap saja saya tancap gas, mengikuti kata hati. Mata saya melirik ke kiri dan ke kanan untuk menemukan lokasi wisata di sekitar sana. Dan benar saja, tak lama berselang ada sebuah tanda bertuliskan Siring Kemuning. Saya masuki gang tersebut dan akhirnya tiba di sebuah pantai yang bernama pantai Siring Kemuning. Letaknya waktu itu di Kecamatan Tanjung Bumi, Bangkalan.

Saya sempak kagok ketika seorang wanita paruh baya meminta biaya masuk kepada saya sebesar 5 ribu rupiah. Untungnya di dompet saya masih ada uang 5 ribu rupiah. Itu adalah uang terakhir yang saya bawa waktu itu. Setelah membayar uang tersebut, secara otomatis dompet hanya diisi oleh kartu-kartu penting maupun tidak penting. Hal yang sangat riskan ketika bepergian, dompet kosong.

Saat memasuki kawasan pantai, saya melihat dua orang gadis belia sedang duduk. Daripada sendirian, sekaligus menambah teman, saya hampiri mereka. Saya memulai obrolan dan rupanya mereka berasal dari Surabaya. Mereka adalah siswa SMA salah satu sekolah di Surabaya. Karena sedang libur mereka bersama teman lainnya memutuskan untuk berlibur ke Pantai Talang Siring. Namanya Auliya dan Alfrida. Keduanya baru pertama kali pergi ke Madura. Mereka sampai duluan, terpisah dari teman lainnya karena hujan. Meski baru bertemu komunikasi kami cair setelah saya melontarkan jokes ringan.

0 Response to "Keluyuran, Tersesat, Ngobrol dan Hilang"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel