JOKER: Penjahat “Super” Rasa Jagoan

JOKER: Penjahat “Super” Rasa Jagoan


Jauh sebelum proses pembuatan, film Joker sudah sangat dinanti oleh banyak pihak, terutama para penggemar serial komik Batman. Sosok Joker yang pernah menjadi penjahat super (super villain) paling populer sepanjang masa akhirnya mempunyai film solo. Sebuah gebrakan yang menarik dari DC dan Warner Bros yang mengangkat kisah di balik seorang penjahat super. Meskipun biaya yang dikeluarkan Warner Bros untuk film ini terbilang kecil dibandingkan film DC lainnya.

Banyak yang meragukan film ini. Bagaimana tidak, peran Joker sebelumnya yang dimainkan secara apik oleh Heath Ledger di film Batman: The Dark Knight Trilogy memang sangat berkesan. Di film The Dark Knight Trilogy Heath Ledger sebagai Joker mencetak sejarah sebagai peraih penghargaan oscar pertama yang berangkat dari film superhero.

Keraguan itupun hilang lantaran film Joker mendapatkan standing applause selama 9 menit di pemutaran perdananya di Venice Film Festival, sebuah festival film internasional yang sangat bergengsi. Di festival film ini Joker membawa pulang gelar sebagai film terbaik versi Venice Film Festival. Joker juga diputar di Midnight Madness Toronto Film Festival bersama jajaran film terpilih lainnya dari seluruh dunia.

Sutradara film Joker, Todd Phillips, sudah mewanti-wanti sejak jauh hari tentang film ini. Film Joker tidak berkaitan langsung dengan universe yang dibangun oleh DC. Hal ini membuat Todd Phillips lebih leluasa untuk melakukan interpretasi terhadap karakter Joker. Film ini bukan tentang kisah kepahlawanan, bukan pula kisah tentang super villain. Namun lebih kepada pembentukan karakter Joker dari sosok manusia biasa menjadi sosok yang kita kenal saat ini.

Joaquin Phoenix memerankan karakter Arthur Fleck dengan sangat apik dan mengagumkan. Selama film berlangsung, Joaquin berhasil membuat penonton bersimpati kepadanya. Bayangkan saja, Joker yang selama ini menjadi musuh Batman paling kejam digambarkan secara manusiawi dan memikat. Sehingga penonton bioskop akan mengerti alasan Arthur Fleck menjadi sosok Joker serta memaklumi apapun yang ia lakukan.

Di awal film kita sudah disuguhkan oleh Arthur yang sedang merias diri untuk pekerjaannya sebagai seorang badut papan reklame. Ada air mata yang menetes saat ia membuat senyuman lebar dengan menarik bibirnya ke samping. Adegan pembuka ini saja sudah menggambarkan betapa tersiksanya jiwa seorang Arthur yang ironisnya bekerja sebagai seorang penghibur.

Kebrutalan masyarakat Kota Gotham diperlihatkan dengan sangat kentara. Mulai dari kelakuan para remaja yang nakalnya kelewat batas. Sikap tak acuh masyarakat atas kejahatan yang ada di depan mata mereka. Persaingan tidak sehat di dunia kerja. Hingga keberpihakan media yang seolah hanya peduli tentang apa yang terjadi pada kaum borjuis dan menutup mata atas penderitaan kaum proletar.

Kritik sosial yang ingin disampaikan oleh Todd Phillips tergambar jelas melalui kondisi masyarakat Gotham. Ketimpangan yang tajam antara kaum borjuis dan proletar ada namun tak nampak di media. Media lebih senang mengangkat berita tentang tikus berukuran besar (super rat) yang mulai masuk ke perumahan orang kaya. Tanpa pernah menyorot sulitnya hidup dan kerasnya kehidupan bagi masyarakat kelas bawah di Kota Gotham.

Hanya butuh satu momen besar dan sebuah simbol untuk menggerakkan perlawanan masyarakat Kota Gotham. Di India pernah ada gerakan perlawanan rakyat terhadap maraknya pelecehan atas kaum perempuan. Para demonstran menggunakan celana dalam wanita yang dipakai di kepala sebagai simbol perlawanan. Simbol uang koin pernah pula digunakan di Indonesia dalam peristiwa “Koin untuk Prita”. Sebuah perlawanan untuk mengkritisi praktek peradilan yang sembrono dan tidak adil. Todd Philips secara cerdas menggunakan topeng badut sebagai simbol perlawanan rakyat kepada penguasa Kota Gotham.

Arthur tidak ingin menjadi sosok sekejam Joker. Jauh di lubuk hatinya, ia adalah orang yang sangat baik. Lingkungan dan keadaan yang kejam dan tidak adillah yang memaksa dia untuk bertransformasi secara bertahap. Tak berlebihan rasanya jika Joaquin Phoenix diprediksi akan masuk ke nominasi oscar. Ia mampu membuat kejahatan dan kekejaman yang dilakukan oleh sosok Joker bisa diterima dan dimaklumi.

Bagi penyuka adegan aksi, film Joker bukan sebuah tontonan yang menyenangkan. Selama film berlangsung, nyaris tidak ada adegan perkelahian khas superhero atau super villain. Hanya ada beberapa suara tembakan pistol di paruh akhir film. Namun beberapa tembakan tersebut sudah cukup untuk membuat jantung terpompa, juga menghasilkan perasaan tak nyaman. Hal itu karena tensi sudah dibangun secara perlahan sejak awal film dan terus meningkat hingga ke bagian ending. Film Joker akan membosankan bagi penggemar film aksi dan superhero klasik. Namun akan sangat menegangkan serta menyenangkan bagi penyuka permainan pikiran, pendalaman karakter dan “plot twist”.

Ketika keluar dari bioskop, penonton akan pulang dengan perasaan bertanya-tanya. Karena alur film ini mengajak penonton untuk berimajinasi. Sebab di bagian akhir film, diperlihatkan bahwa momen Arthur bersama kekasihnya hanyalah delusi. Lantas, bagian mana di film yang delusi dan bagian mana yang nyata? Apakah hanya sebagian saja yang delusi, atau bahkan sepanjang film hanyalah delusi Arthur yang ada di rumah sakit jiwa?

Selama ini sosok Joker digambarkan dengan beragam. Peran Heath Ledger sebagai Joker di The Dark Knight Trilogy membuat standar yang sangat tinggi akan sosok Joker. Memang harus diakui Heath Ledger memerankan Joker dengan sangat sempurna. Akan tetapi Joaquin Phoenix memberikan interpretasi yang berbeda dan tidak kalah menariknya terhadap sosok Joker. Keduanya mempunyai kisah yang berbeda, dan karenanya tentu tidak dapat dibandingkan.

0 Response to "JOKER: Penjahat “Super” Rasa Jagoan"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel